Novotel Bukittinggi (Kini Monopoli Hotel): Lokasi Terbaik di Kota, dengan Harga yang Sepadan

Menginap ketika masih bernama Novotel Bukittinggi — kini Monopoli Hotel. Lokasinya 150 meter dari Jam Gadang dan nyaris tidak tertandingi, kamarnya nyaman, tapi sarapan dan pelayanannya biasa saja dan harganya relatif mahal.

Novotel Bukittinggi, kini Monopoli Hotel

Ringkasan Cepat

  • Kategori: Hotel bintang empat, pusat kota
  • Lokasi: Jl. Laras Datuk Bandaro, Kec. Guguk Panjang, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat
  • Peta: Lihat di Google Maps
  • Nama saat ini: Monopoli Hotel Bukittinggi (sejak 1 Oktober 2024)
  • Nama saat saya menginap: Novotel Bukittinggi
  • Status: Pernah menginap langsung
  • Penilaian Veriview: Sangat memuaskan — direkomendasikan bila anggaran memadai

Cek ketersediaan & harga

Novotel Bukittinggi (Kini Monopoli Hotel)

  • LokasiJl. Laras Datuk Bandaro, Kec. Guguk Panjang, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat
  • Penilaian VeriviewSangat memuaskan — direkomendasikan bila anggaran memadai

Tarif penginapan berubah menurut tanggal, hari, dan musim. Angka yang kami catat di atas berlaku saat ulasan ini ditulis, bukan harga hari ini.

Tautan di atas adalah tautan afiliasi Traveloka. Bila Anda memesan lewat tautan ini, Veriview menerima komisi kecil tanpa biaya tambahan bagi Anda. Isi ulasan tidak berubah karenanya — lihat Independensi & Transparansi.

Peringatan penting sebelum Anda membaca

Pengelola Sudah Berganti

Hotel ini sudah tidak bernama Novotel lagi. Bangunannya sama, lokasinya sama, tapi yang menjalankannya sudah berbeda. Pelayanan, sarapan, dan perawatan kamar bisa jauh berbeda dari yang saya alami.

Saya menginap ketika namanya masih Novotel Bukittinggi. Sejak itu, hotel ini berganti nama dan berganti pengelola — pertama menjadi TripleTree Hotel & Resort, lalu sejak 1 Oktober 2024 beroperasi sebagai Monopoli Hotel Bukittinggi di bawah pengelola baru, setelah kerja sama pengelolaan selama tiga puluh tahun berakhir.

Saya menyampaikan ini di awal karena ulasan yang tidak menyebutkan hal semacam ini bisa menyesatkan. Yang tetap berlaku dari tulisan ini adalah hal-hal yang melekat pada bangunan dan lokasinya. Untuk urusan pelayanan, periksa ulasan terbaru.

Sedikit riwayat bangunan ini

Hotel ini diresmikan pada 11 November 1995 sebagai Novotel Bukittinggi, dan sejak awal berdiri sebagai salah satu hotel bintang empat pertama di kota ini.

Perjalanan namanya berliku: menjadi The Hills Bukittinggi pada 2009, kembali ke Novotel pada 2016, lalu TripleTree, dan kini Monopoli. Bangunannya sendiri milik Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, dikelola pihak ketiga melalui perjanjian jangka panjang.

Bagi orang Bukittinggi, gedung ini adalah penanda kota. Bagi pengunjung, ia salah satu hotel yang paling dikenal namanya — dengan nama apa pun.

Alasan utamanya: lokasi

Saya berada di Bukittinggi untuk melakukan penelitian, dan dalam pekerjaan lapangan, lokasi menentukan segalanya.

Hotel ini berjarak sekitar 150 meter dari Jam Gadang — beberapa menit berjalan kaki. Dari sana, hampir seluruh titik penting kota berada dalam jangkauan: Istana Bung Hatta persis di dekatnya, Pasar Atas beberapa ratus meter, dan Ngarai Sianok serta Lobang Jepang hanya beberapa menit berkendara.

Dekat ke mana-mana. Itu penilaian saya, dan bagi peneliti yang harus bergerak dari satu titik ke titik lain sepanjang hari, penghematan waktu ini nilainya besar sekali.

Anda tidak perlu memperhitungkan perjalanan pulang-pergi setiap kali ingin kembali ke kamar untuk mengambil berkas atau beristirahat sejenak. Itu kemewahan yang tidak diberikan hotel di pinggir kota, seberapa pun bagusnya.

Kamar dan fasilitasnya

Kamar dan fasilitasnya termasuk yang membuat saya menilai pengalaman ini sangat memuaskan. Ini hotel bintang empat, dan standarnya terasa.

Untuk pekerjaan lapangan yang menuntut Anda kembali dalam keadaan lelah setiap malam, kenyamanan semacam ini bukan kemewahan yang sia-sia — ia menentukan apakah Anda bisa bekerja dengan baik keesokan harinya.

Bangunannya

Arsitektur hotel ini kerap disebut memadukan gaya Moor dan Minangkabau, dan bagi sebagian tamu itu daya tarik tersendiri.

Saya sendiri tidak terlalu memperhatikannya selama menginap — perhatian saya tertuju pada pekerjaan. Tapi bangunannya memang punya karakter, dan bagi Anda yang datang berwisata, ini bisa menjadi nilai tambah yang tidak ditawarkan hotel modern mana pun di kota ini.

Yang biasa saja

Supaya seimbang, dua hal ini tidak istimewa menurut saya.

Sarapannya

Ada, memadai, tapi bukan sesuatu yang saya ingat secara khusus. Di Bukittinggi, ini bukan masalah besar — kota ini punya kuliner Minang yang jauh lebih menarik di luar hotel.

Pelayanan stafnya

Sopan dan tidak bermasalah, tapi tidak sampai membantu saya mendapatkan informasi lokal yang berguna untuk penelitian. Kalau Anda datang untuk pekerjaan lapangan dan berharap staf hotel menjadi sumber informasi, jangan mengandalkan hal itu di sini.

Catatan utamanya: harganya

Inilah satu-satunya hal yang perlu Anda pertimbangkan serius: harganya relatif mahal.

Ini bukan keluhan. Untuk hotel bintang empat dengan lokasi terbaik di Bukittinggi, tarif yang lebih tinggi masuk akal. Tapi bagi pelancong dengan anggaran terbatas, selisihnya dengan penginapan kelas ekonomi di kota ini cukup besar — bandingkan misalnya dengan penginapan syariah dekat Pasar Aur Kuning yang pernah kami ulas.

Pertanyaannya sederhana: seberapa berharga waktu dan kenyamanan Anda dalam perjalanan ini?

Kalau Anda datang untuk bekerja, meneliti, atau menghadiri kegiatan dengan jadwal padat, membayar lebih untuk berada di pusat kota sering kali justru menghemat — baik waktu maupun biaya transportasi. Kalau Anda datang berlibur santai dan tidak keberatan berkendara sedikit, uang Anda bisa lebih berguna di tempat lain.

Cocok untuk siapa

Sangat cocok untuk

  • Peneliti dan pekerja lapangan yang butuh basis di pusat Bukittinggi.
  • Perjalanan dinas dan kegiatan dengan jadwal padat.
  • Wisatawan yang ingin berjalan kaki ke Jam Gadang dan sekitarnya.
  • Yang anggarannya memadai dan mengutamakan kenyamanan.

Kurang cocok untuk

  • Yang bepergian dengan anggaran ketat.
  • Yang membawa kendaraan sendiri dan tidak keberatan menginap agak jauh.
  • Yang mengharapkan sarapan istimewa atau pelayanan yang sangat personal.

Kesimpulan

Rekomendasi saya: ya, kalau anggaran Anda memadai.

Yang Anda beli di sini bukan sarapan atau keramahan staf — keduanya biasa saja. Yang Anda beli adalah lokasi, dan di Bukittinggi, lokasi ini nyaris tidak tertandingi. Berjalan kaki ke Jam Gadang, dekat ke mana-mana, dengan kamar bintang empat yang membuat Anda bisa beristirahat dengan baik. Untuk penelitian saya, pertukaran itu sangat sepadan.

Satu hal terakhir: karena pengelolanya sudah berganti sejak saya menginap, periksa ulasan terbaru sebelum memesan. Bangunan dan lokasinya tidak berubah — selebihnya, mungkin sudah.

★★★★☆ · Sangat memuaskan, dengan catatan harga

Ulasan ini ditulis berdasarkan pengalaman menginap langsung ketika hotel masih beroperasi dengan nama Novotel Bukittinggi. Hotel telah berganti nama dan pengelola sejak saat itu, dan kini beroperasi sebagai Monopoli Hotel Bukittinggi. Riwayat pergantian nama dan pengelolaan dikutip dari pemberitaan media per Agustus 2026. veriview.store tidak menerima kompensasi dari pihak hotel.

Sudah selesai membaca?

Novotel Bukittinggi (Kini Monopoli Hotel)

Tautan afiliasi Traveloka. Komisi dari pemesanan Anda membantu kami tetap menguji dan menginap sendiri sebelum menulis ulasan — tanpa biaya tambahan bagi Anda.

Dapat kabar ulasan baru

Kami mengirim email hanya kalau ada ulasan penginapan atau kuliner baru, plus catatan perjalanan yang menurut kami layak dibaca. Tidak setiap minggu, dan tidak pernah spam.

Berhenti berlangganan kapan saja lewat tautan di setiap email. Alamat Anda tidak kami jual atau bagikan — lihat Kebijakan Privasi.