Roti Sak Leupung: Kue Tradisional Aceh yang Namanya Berarti “Diselipkan”
Roti goreng dibelah lalu diselipkan ketan dan kelapa muda, Rp2.000–Rp3.000 per buah di Km 24 Leupung. Empat bintang untuk kue yang istimewa karena masih ada — termasuk alasan kenapa bukan lima.

Ringkasan Cepat
- Kategori: Kuliner — Kue tradisional
- Yang diulas: Roti sak, disantap bersama kopi tubruk
- Lokasi: Jl. Banda Aceh–Calang Km 24, Meunasah Mesjid, Kec. Leupung, Kab. Aceh Besar
- Penanda: Area warung di samping Toko Dua Saudara — papan nama biru bertulisan merah, terlihat dari jalan
- Peta: Lihat di Google Maps
- Harga: Rp2.000 – Rp3.000 per buah. Harga kopi tidak dikonfirmasi terpisah
- Status: Kunjungan dan konsumsi langsung, dibayar sendiri
- Penilaian Veriview: ★★★★☆ (4/5)
Rencanakan kunjungan Anda
Roti Sak Leupung
Kalau Anda datang dari luar kota hanya untuk mencoba ini, dua hal yang biasanya perlu dipesan lebih dulu adalah tempat menginap dan tiket perjalanan:
Kami tidak berafiliasi dengan warung, penjual, atau pembuat makanan yang diulas di halaman ini, dan tidak menerima apa pun dari mereka. Tombol di atas murni untuk kebutuhan perjalanan Anda.
Tautan di atas adalah tautan afiliasi Traveloka. Bila Anda memesan lewat tautan ini, Veriview menerima komisi kecil tanpa biaya tambahan bagi Anda. Isi ulasan tidak berubah karenanya — lihat Independensi & Transparansi.
Saya berhenti di Kilometer 24 lintas Banda Aceh–Calang pada suatu pagi, sebelum pukul sepuluh. Tujuannya sederhana: secangkir kopi sebelum melanjutkan perjalanan. Yang tidak saya duga, di meja jajanan warung itu ada sesuatu yang belum pernah saya temukan di mana pun sebelumnya.
Namanya Roti Sak.
Kenapa Disebut “Sak”?
Saya menanyakan nama itu ke penjualnya. Penjelasannya masuk akal dan langsung terlihat di bentuknya: ketan dan parutan kelapa diselipkan — di-sak — ke dalam roti goreng yang sudah dibelah.
Status Keterangan Ini
Penjual menyampaikannya sebagai pemahaman umum di sana, bukan sebagai definisi baku. Saya mencatatnya apa adanya. Saya tidak menemukan istilah ini dalam referensi kuliner Aceh yang beredar luas — tidak seperti timphan, boh rom-rom, atau pulot panggang yang sudah terdokumentasi. Anggaplah penjelasan ini keterangan lisan setempat, bukan etimologi yang sudah diverifikasi.
Justru itu daya tariknya. Ini kue yang belum masuk daftar mana pun.
Bentuk dan Isian
Adonan roti digoreng sampai mengembang jadi kantong keemasan, lalu dibelah di satu sisi. Ke dalam belahan itu diselipkan nasi ketan putih dan parutan kelapa muda.
Dari luar, ia mudah disangka gorengan biasa. Baru ketika diangkat terlihat isian ketan yang menyembul putih di bagian bukaannya. Bagi yang mencari padanan, “roti goreng isi ketan kelapa” adalah deskripsi yang paling mendekati — tapi di Leupung, namanya roti sak.
Rasa dan Tekstur
Yang paling menonjol adalah keempukannya.
Saya sempat menduga kulit gorengnya akan renyah dan berisik. Ternyata tidak. Adonan yang mengembang itu tetap lembut, dan begitu digigit langsung bertemu ketan yang pulen. Dua lapisan lembut bertemu tanpa kontras tekstur yang tajam — menyatu, bukan bertabrakan.
Parutan kelapa mudanya membawa gurih yang segar, dengan sedikit rasa manis alami dari kelapanya sendiri. Bukan manis gula, bukan manis gula aren yang meleleh seperti pada boh rom-rom. Manisnya tipis, samar, dan berhenti di situ.
Inti Penilaian
Roti sak jujur soal dirinya sendiri: empuk, gurih ringan, mengenyangkan. Tidak ada kejutan di dalamnya, dan memang tidak dimaksudkan ada.
Bukan Buatan Warung
Satu hal yang saya pelajari di sana: roti sak tidak dibuat oleh pemilik warung. Kue ini dibuat oleh warga setempat, lalu dititipkan ke warung setiap hari dan diletakkan bersama jajanan lainnya di meja depan.
Ini penting untuk diketahui, karena dua alasan. Pertama, ini berarti roti sak adalah produk rumah tangga, bukan produk komersial berskala. Yang Anda beli adalah hasil dapur seseorang di Leupung.
Kedua, ini menjelaskan kondisi penyajiannya. Roti sak sudah tersedia dalam wadah plastik tertutup ketika saya datang — bukan digoreng dadakan saat dipesan. Jadi jangan datang mengharapkan gorengan panas dari wajan.
Kopi Tubruk yang Nendang
Di sinilah roti sak menemukan pasangannya.
Kopi yang disajikan adalah kopi tubruk biasa — bukan kopi saring khas Aceh yang teatrikal, bukan sanger. Hitam pekat, dalam gelas kaca kecil. Tapi kopinya nendang. Pahitnya tegas, tanpa basa-basi.
Dan justru di situ logikanya bekerja. Roti sak yang lembut, gurih, dan nyaris tanpa rasa dominan itu butuh sesuatu yang keras untuk mengimbangi. Kopi tubruk pekat memotong gurih kelapa dan berat ketan, lalu mengembalikan lidah ke posisi netral untuk gigitan berikutnya.
Kalau harus saya ringkas: roti sak tanpa kopi hanya setengah pengalaman.
Harga
Rp2.000 – Rp3.000 per buah.
Untuk isian nasi ketan dan kelapa muda dalam bungkus roti goreng, ini murah. Dua atau tiga buah sudah cukup untuk sarapan atau pengganjal perut sebelum perjalanan jauh.
Harga kopi tidak saya konfirmasi terpisah — silakan tanyakan langsung jika Anda butuh patokan pasti.
Lokasi dan Cara Menemukannya
- Alamat: Jl. Banda Aceh – Calang Km 24, Meunasah Mesjid, Kec. Leupung, Kabupaten Aceh Besar
- Penanda: Area warung di samping Toko Dua Saudara (grosir dan eceran, papan nama biru dengan tulisan merah, terlihat jelas dari jalan)
- Suasana: Warung terbuka beratap seng, meja kayu panjang, bukit hijau di seberang jalan. Tempat singgah, bukan tempat berlama-lama.
Kalau Anda dalam perjalanan darat dari Banda Aceh menuju Calang atau pantai barat Aceh, titik ini jatuh di jarak yang pas untuk berhenti pertama kali.
Catatan Jujur
Perlu Diketahui Sebelum Datang
- Tidak disajikan hangat. Roti sak sudah tersedia dalam wadah plastik sejak pagi. Ini bukan gorengan yang diangkat dari wajan di depan Anda. Kalau Anda menghargai tekstur gorengan yang baru matang, datanglah sepagi mungkin.
- Rasanya sederhana. Tidak ada isian manis yang meleleh, tidak ada rempah, tidak ada lapisan rasa. Bagi yang datang mengharapkan sesuatu yang kompleks seperti timphan, roti sak akan terasa datar.
- Ketersediaan bergantung pada satu orang. Karena dititipkan oleh warga, jumlahnya terbatas per hari. Kalau habis, ya habis — dan tidak ada yang bisa membuatkannya dadakan untuk Anda.
- Namanya hampir mustahil dicari daring. Jangan berharap menemukan roti sak lewat pencarian internet. Datangi saja langsung.
- Soal isi perut. Ini gorengan berisi nasi ketan. Kombinasi minyak dan ketan cenderung berat dan lambat dicerna. Bagi yang punya keluhan lambung atau sedang menjaga asupan gula darah, dua buah sudah cukup banyak. Ukurannya kecil, dan itu justru membuat orang mudah lupa berapa yang sudah dimakan.
Kesimpulan
Nilai ini bukan soal kelezatan absolut. Ada banyak kue Aceh yang lebih kaya rasanya. Nilai ini saya berikan karena roti sak adalah kue tradisional yang masih hidup di satu tempat, dibuat oleh warga, dijual dengan harga yang nyaris tidak masuk akal murahnya, dan punya nama yang menjelaskan dirinya sendiri.
Keistimewaannya terletak pada keberadaannya, bukan pada kerumitannya. Satu poin yang saya tahan berkaitan dengan hal-hal yang wajar dikritik: tidak disajikan hangat, dan profil rasanya terlalu sederhana untuk semua selera.
Kalau Anda melintas di Km 24 Leupung, berhentilah. Pesan dua roti sak dan segelas kopi tubruk. Pengeluaran Anda tidak akan mencapai sepuluh ribu rupiah, tapi Anda akan mencicipi sesuatu yang tidak tercatat di daftar kuliner mana pun — dan mungkin tidak akan Anda temukan lagi di tempat lain.
Ulasan ini ditulis berdasarkan kunjungan dan konsumsi langsung. Saya membayar sendiri seluruh makanan dan minuman yang disebutkan. Tidak ada kompensasi, undangan, atau imbalan dalam bentuk apa pun dari pemilik warung, pembuat kue, maupun pihak ketiga. Harga berlaku pada saat kunjungan dan dapat berubah. Penjelasan mengenai asal nama “roti sak” bersumber dari keterangan lisan penjual di lokasi.
Lanjutan di jalur yang sama
Km 24 biasanya cuma perhentian pertama. Ini catatan kami yang lain di sepanjang jalur barat Aceh dan sekitarnya — makan berat berikutnya, kopi, dan tempat menginap.
- Kuah Cue Warung Kaki Kulu, LhoongKm 43, sekitar sembilan belas kilometer lebih jauh — makan siang di jalur yang sama.
- Al Hambra Hotel Banda AcehPenginapan di Banda Aceh, titik awal jalur ini.
- Sanger Espresso Premium Aqilla Coffee RoasteryKalau kopi tubruk terasa kurang, ini kopi di Ulee Kareng.
- Martabak Durian Sareng Kupi LambaroMasih Aceh Besar, di sisi keluar Banda Aceh.
Baca juga ulasan lain
- Kuliner Jalur Banda Aceh–Calang: Dua Perhentian yang Sepadan di Km 24 dan Km 43
- Kuah Cue Warung Kaki Kulu, Lhoong: Kuliner Siput Sungai yang Menghentikan Setiap Musafir Jalur Banda Aceh–Calang
- Martabak Durian Sareng Kupi Lambaro: Durian Asli di Balik Lipatan Adonan Tipis
- Sanger Espresso Premium Aqilla Coffee Roastery: Ngopi di Tempat Produksinya, Ketika Susu Tidak Berhasil Menenggelamkan Kopi
Dapat kabar ulasan baru
Kami mengirim email hanya kalau ada ulasan penginapan atau kuliner baru, plus catatan perjalanan yang menurut kami layak dibaca. Tidak setiap minggu, dan tidak pernah spam.
Berhenti berlangganan kapan saja lewat tautan di setiap email. Alamat Anda tidak kami jual atau bagikan — lihat Kebijakan Privasi.
