Chin Chin Songkhla: Kedai Teh Rambutan di Depan Universitas Thaksin yang Ramai Sampai Tengah Malam
Ulasan Chin Chin (ชาเงาะชินชิน) di Soi 23 Jalan Kanjanavanich, Songkhla: kedai teh rambutan sekaligus tempat makan malam di seberang Universitas Thaksin, buka 17.30 sampai tengah malam, menu empat bahasa, dan sekitar 80 sampai 110 baht per orang.
Ringkasan Cepat
- Tempat: Chin Chin (ชาเงาะชินชิน), kedai teh rambutan sekaligus tempat makan malam
- Lokasi: Soi 23, Jl. Kanjanavanich, Tambon Khao Rup Chang, Amphoe Mueang Songkhla, Songkhla 90000, Thailand
- Peta: Lihat di Google Maps
- Patokan: Seberang Universitas Thaksin, dekat asrama Phichit Suwan 4
- Jam buka: Setiap hari, 17.30–24.00
- Kontak: +66 85 888 7447
- Kisaran harga: ฿80–110 per orang, sekitar Rp40.000–55.000
- Status: Pernah berkunjung langsung, dibayar sendiri
- Penilaian Veriview: 4 dari 5 — datang untuk suasananya, dan pesan teh rambutannya
Catatan Redaksi
Berbeda dari umumnya artikel di Veriview, ulasan ini bukan kunjungan penulis utama. Pengalaman dan foto berasal dari anggota Tim Veriview yang bermukim di Songkhla, Thailand Selatan, dan sedang berkuliah di Universitas Thaksin. Semuanya tetap pengalaman langsung, dibayar sendiri, tanpa kompensasi dari pihak mana pun.
Di mana lokasi Chin Chin Songkhla?
Chin Chin berada di ruas Jalan Kanjanavanich (ถนนกาญจนวณิช), Tambon Khao Rup Chang, Amphoe Mueang Songkhla. Patokannya mudah: masuk ke Soi 23 sekitar 200 meter, tepat berhadapan dengan kampus Universitas Thaksin dan asrama Phichit Suwan 4.
Nama lengkapnya di papan adalah ชาเงาะชินชิน — dibaca cha ngo chin chin. “Cha ngo” artinya teh rambutan, dan itu memang menu andalan yang membuat jaringan kedai ini terkenal di Songkhla dan Hat Yai. Jadi kalau bertanya kepada orang lokal dengan menyebut “Chin Chin” saja, sebagian akan langsung paham.
Karena lokasinya menempel kampus, mayoritas pengunjungnya mahasiswa. Ini bukan tempat wisata kuliner yang dipoles untuk turis — ini kantin malam anak kuliahan, dengan semua kelebihan dan kekurangan yang menyertainya.
Bagaimana suasana Chin Chin pada malam hari?
Inilah kekuatan utama tempat ini.
Chin Chin adalah ruang terbuka beratap rangka kayu dan seng, digantungi ribuan lampu kelap-kelip dan tanaman rambat. Kursinya kursi lipat kanvas hitam — model kursi kemah — dengan meja kayu rendah. Lantainya bukan keramik, tapi pasir dan tanah.
Penanda paling mencolok adalah lampu bulan raksasa yang dipasang di tiang tinggi di tengah area makan. Bentuknya bola besar bertekstur kawah bulan, menyala kekuningan, dan pada malam hari terlihat seperti purnama yang turun ke halaman. Objek inilah yang paling sering muncul di unggahan media sosial pengunjung, dan memang layak difoto.
Malam itu kondisinya penuh. Hampir semua meja terisi, mayoritas mahasiswa berkelompok, sebagian mengobrol lama setelah makanan habis. Musiknya cukup keras. Bagi yang ingin suasana lebih tenang, duduk di sisi luar area adalah pilihan yang lebih nyaman.
Kesan yang tertinggal: nyaman, hidup, dan sangat khas kota kampus Thailand Selatan.
Menu apa saja yang tersedia di Chin Chin?
Menunya jauh lebih panjang dari yang dibayangkan untuk sebuah kedai teh. Kategorinya mencakup:
- มาม่า หมาล่า สุกี้ — mi mama dengan kuah mala dan suki
- หม่าล่าปิ้ง — mala tusuk, ambil sendiri di lemari
- ก๋วยเตี๋ยว — aneka kuetiau berkuah
- ข้าวต้ม / โจ๊ก — bubur nasi dan bubur Chin Chin
- ส้มตำ / ยำ — som tam dan aneka yam
- โรตี — roti canai manis
- บิงซู — bingsu ala Korea
- Lain-lain — aneka gorengan, roti bakar, burger, salad, sampai nacho
Satu detail yang menarik bagi pembaca Indonesia dan Malaysia: papan menunya ditulis dalam empat bahasa — Thai, Inggris, Mandarin, dan Bahasa Indonesia/Melayu. Anda akan menemukan tulisan seperti “Mi Mama Mala dan Suki” atau “Kentang Goreng” berdampingan dengan aksara Thai. Untuk kawasan yang berdekatan dengan perbatasan Malaysia dan banyak dikunjungi pelajar Muslim dari Pattani, Yala, dan Narathiwat, ini masuk akal — dan sangat memudahkan pengunjung dari negara kita.
Bagaimana rasa makanannya?
Yang dipesan malam itu adalah mi ala Korea dari kelompok menu mama noodles: mi keriting dengan bumbu merah pedas, disajikan dengan potongan nori, crab stick, telur rebus setengah matang, dan daun selada segar di sisi piring.
Penyajiannya rapi dan porsinya cukup mengenyangkan untuk satu orang. Rasanya, menurut penilaian langsung: lumayan enak — memuaskan, tapi tidak sampai membuat terpaku. Bumbunya meresap ke mi, level pedasnya terasa tapi masih aman untuk lidah Indonesia, dan telur setengah matang membantu menetralkan pedas. Ini masakan kedai kampus yang dikerjakan dengan benar, bukan hidangan yang perlu diperjuangkan untuk dicoba.
Yang belum sempat dicicipi dan sebenarnya justru menjadi identitas tempat ini adalah teh rambutannya. Kalau Anda ke sana, pesan itu — bukan mi.
Berapa harga makanan di Chin Chin?
Harga adalah nilai jual terbesar kedua setelah suasana. Wongnai menandai Chin Chin di kategori termurah.
Harga yang bisa dipastikan dari daftar menu resmi:
| Menu | Harga |
|---|---|
| Cha ngo (teh rambutan) | ฿39 |
| Teh hijau rambutan | ฿39 |
| Kelapa rambutan | ฿39 |
| Teh susu segar / teh latte | ฿35 |
| Teh hijau susu segar | ฿35 |
| Mala tusuk | ฿10 per tusuk |
Untuk menu makanan, perkiraan wajarnya berada di kisaran ฿45–70 per porsi, sehingga sekali makan lengkap dengan minuman ada di sekitar ฿80–110 per orang — kurang lebih Rp40.000 sampai Rp55.000. Angka ini perkiraan, bukan salinan struk, jadi anggap sebagai ancar-ancar.
Apa yang perlu diketahui sebelum datang?
Beberapa catatan jujur yang sebaiknya Anda tahu:
Periksa Sebelum Berangkat
- Jam buka terbatas. Chin Chin baru buka pukul 17.30 dan tutup tengah malam. Jangan datang siang hari; tempatnya kosong.
- Antrean makanan bisa lama. Pihak kedai sendiri memasang pemberitahuan tertulis di menu bahwa jika pesanan belum keluar lebih dari 20 menit, pelanggan dipersilakan menagih dengan menuliskan daftar pesanan dan nomor meja. Datanglah dalam kondisi tidak sedang terburu-buru.
- Parkir mobil sulit. Pengunjung lain melaporkan kesulitan memarkir kendaraan besar dan menyarankan datang dengan sepeda motor. Mengingat lokasinya masuk ke soi sempit dengan lahan tanah, saran itu masuk akal.
- Toilet berada di luar area kedai — di bawah bangunan seberang, di belakang pos satpam.
- Sistem pesan mandiri. Pemesanan dilakukan lewat sistem digital, dan untuk mala tusuk Anda mengambil sendiri dari lemari pendingin. Jangan menunggu dilayani seperti restoran biasa.
Apakah Chin Chin layak dikunjungi?
Ya — dengan ekspektasi yang tepat.
Datanglah ke Chin Chin bukan untuk berburu masakan Thailand Selatan terbaik, tapi untuk merasakan bagaimana malam hari di kota kampus Songkhla sebenarnya berlangsung: mahasiswa berkumpul di bawah lampu bulan raksasa, teh rambutan dingin di meja, harga yang tidak membuat berpikir dua kali, dan obrolan yang berlanjut sampai tengah malam.
Bagi pengunjung Indonesia dan Malaysia yang sedang berada di Songkhla atau Hat Yai — untuk urusan kampus, konferensi, atau sekadar menyeberang dari perbatasan — ini tempat yang mudah dinikmati, murah, dan tidak menuntut kemampuan berbahasa Thai berkat menu multibahasanya.
Penilaian Veriview
⭐⭐⭐⭐ 4 dari 5
- Suasana (4/5): Lampu bulan raksasa, lampu kelap-kelip, dan ruang terbuka yang hidup. Kurang satu poin karena bising dan padat.
- Rasa (3,5/5): Masakan kedai kampus yang dikerjakan dengan benar, bukan hidangan yang membuat terpaku.
- Harga (5/5): Minuman andalan ฿39, sekali makan sekitar ฿80–110 per orang.
- Kemudahan bagi pengunjung asing (5/5): Menu empat bahasa, termasuk Bahasa Indonesia/Melayu.
Informasi Praktis
- Nama: ชาเงาะชินชิน / Cha Ngo Chin Chin (Chin Chin) — cabang Soi 23 Songkhla
- Alamat: Soi 23, Jl. Kanjanavanich, Tambon Khao Rup Chang, Amphoe Mueang Songkhla, Songkhla 90000, Thailand
- Patokan: Seberang Universitas Thaksin, dekat asrama Phichit Suwan 4
- Jam buka: Setiap hari, 17.30–24.00
- Telepon: +66 85 888 7447
- Kisaran harga: ฿80–110 per orang
- Cocok untuk: makan malam santai, nongkrong panjang, rombongan mahasiswa, foto suasana malam
Datang dari luar kota?
Menginap di Songkhla atau Hat Yai
Chin Chin berada di kawasan kampus Khao Rup Chang, Songkhla. Kalau Anda datang dari luar kota — urusan kampus, konferensi, atau menyeberang dari perbatasan Malaysia — kami sudah menulis dua ulasan penginapan di kawasan ini: W Sotel Hotel Songkhla dan Hansa JB Hotel Hat Yai. Tautan di bawah adalah pencarian hotel biasa, bukan rekomendasi satu properti tertentu.
Tautan afiliasi. Veriview menerima komisi kecil jika Anda memesan lewat tautan ini, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Seluruh makanan dan minuman yang kami ulas kami bayar sendiri.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Chin Chin Songkhla buka jam berapa?
Setiap hari mulai pukul 17.30 sampai tengah malam. Datang siang hari tidak ada gunanya karena kedainya belum buka.
Berapa harga teh rambutannya?
฿39 per gelas menurut daftar menu resmi, sama dengan teh hijau rambutan dan kelapa rambutan. Teh susu segar dan teh latte ฿35.
Apakah Chin Chin bisa dicapai dengan berjalan kaki dari Universitas Thaksin?
Bisa. Kedainya berada di Soi 23 sekitar 200 meter dari jalan utama, persis berhadapan dengan kampus dan asrama Phichit Suwan 4. Untuk kendaraan besar, parkirnya sempit; sepeda motor jauh lebih praktis.
Apakah menunya bisa dibaca pengunjung Indonesia?
Bisa. Papan menunya ditulis dalam empat bahasa: Thai, Inggris, Mandarin, dan Bahasa Indonesia/Melayu.
Apakah makanannya halal?
Kami tidak menemukan sertifikasi halal yang dipasang di kedai ini, jadi kami tidak bisa memastikannya. Kawasan ini memang banyak dikunjungi pelajar Muslim dari Pattani, Yala, dan Narathiwat, tetapi kalau soal kehalalan penting bagi Anda, tanyakan langsung kepada pihak kedai sebelum memesan.
Apa yang sebaiknya dipesan?
Teh rambutannya. Itu identitas tempat ini dan alasan jaringan kedainya dikenal di Songkhla dan Hat Yai. Menu makanannya layak, tapi bukan alasan utama datang.
Ulasan ini ditulis berdasarkan kunjungan dan pembayaran pribadi anggota Tim Veriview yang bermukim di Songkhla. Kami tidak menerima kompensasi, undangan, maupun hidangan gratis dari pihak Chin Chin. Harga menu makanan dalam artikel ini merupakan perkiraan dan dapat berbeda dari harga yang berlaku saat Anda berkunjung.
Halaman ini memuat tautan afiliasi. Jika Anda memesan hotel lewat tautan tersebut, Veriview menerima komisi kecil tanpa biaya tambahan bagi Anda, dan isi ulasan tidak berubah karenanya.
For international readers
Cha Ngo Chin Chin is an open-air rambutan tea shop and late-night eatery on Soi 23, Kanjanavanich Road, opposite Thaksin University in Songkhla, southern Thailand. It opens 5.30pm to midnight, is filled mostly with students, and is best known for its giant moon lamp and its rambutan tea at 39 baht. Food is decent rather than remarkable; a full meal with a drink runs roughly 80 to 110 baht. The menu is printed in four languages, including Indonesian/Malay. Come for the atmosphere and the tea, not for a culinary pilgrimage, and do not expect quick service when it is busy.
