Teh Talua di Padang: Manis yang Tak Terbantah, dan Ajakan yang Selalu Berulang
Teh talua selalu datang lewat ajakan, bukan inisiatif sendiri. Catatan jujur soal busa telur yang tebal, manis yang terlalu dominan, jeruk nipis yang kalah, dan kenapa gelas itu tetap saya habiskan.

Ringkasan Cepat
- Kategori: Kuliner
- Lokasi: Kota Padang, Sumatera Barat
- Warung tempat saya mencobanya: Sate Kalumbuk / Sate Cipta Rasa, Simpang Kalumbuk
- Alamat: Korong Gadang, Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat 25171
- Peta: Lihat di Google Maps
- Rating Google warung: 4,5 dari 538 ulasan
- Kisaran belanja di warung: Rp25.000–Rp50.000 per orang
- Jenis: Minuman khas Minangkabau
- Bahan utama: Kuning telur ayam kampung atau itik, gula, teh pekat, sering ditambah susu kental manis
- Pendamping: Sepotong jeruk nipis
- Waktu terbaik: Menjelang magrib
- Kisaran harga: Umumnya belasan ribu rupiah per gelas — sebaiknya dikonfirmasi langsung di tempat
- Penilaian Veriview: ★★★☆☆ — Layak dicoba, belum tentu diulang
Rencanakan kunjungan Anda
Teh Talua di Kota Padang
Kalau Anda datang dari luar kota hanya untuk mencoba ini, dua hal yang biasanya perlu dipesan lebih dulu adalah tempat menginap dan tiket perjalanan:
Kami tidak berafiliasi dengan warung, penjual, atau pembuat makanan yang diulas di halaman ini, dan tidak menerima apa pun dari mereka. Tombol di atas murni untuk kebutuhan perjalanan Anda.
Tautan di atas adalah tautan afiliasi Traveloka. Bila Anda memesan lewat tautan ini, Veriview menerima komisi kecil tanpa biaya tambahan bagi Anda. Isi ulasan tidak berubah karenanya — lihat Independensi & Transparansi.
Ada minuman yang Anda cari sendiri, dan ada minuman yang datang kepada Anda lewat ajakan orang lain. Teh talua masuk kategori kedua.
Selama beberapa kali berada di Padang, saya tidak pernah sekali pun memesan minuman ini atas inisiatif sendiri. Selalu ada kolega yang mengajak, selalu ke warung sate yang sama — Sate Kalumbuk atau Sate Cipta Rasa di Simpang Kalumbuk, warung sate Padang yang cukup terkenal di kotanya — dan selalu menjelang magrib. Saya tidak pernah tahu harganya, karena tidak pernah sekali pun saya yang membayar.
Pengulangan itulah yang akhirnya membuat saya sadar: teh talua bukan sekadar minuman. Ia adalah cara orang Minang menjamu.
Apa Sebenarnya Teh Talua Itu
Namanya berasal dari bahasa Minang, talua yang berarti telur. Karena itu ejaan yang tepat adalah teh talua, bukan “teh taluk” atau “teh telor”. Sebagian orang menyebutnya teh telur, dan itu juga benar.
Pembuatannya sederhana tapi menuntut tenaga: kuning telur — biasanya telur ayam kampung atau telur itik — dikocok kuat bersama gula sampai mengembang dan berbusa tebal. Ke dalamnya dituang teh yang diseduh sangat kental dan panas. Banyak warung menambahkan susu kental manis. Di sisi gelas disandingkan sepotong jeruk nipis.
Hasilnya bukan minuman yang tercampur rata, melainkan bertingkat. Di gelas yang saya terima, tiga lapisnya terlihat jelas: busa kuning kekrem-an yang tebal di permukaan, badan teh berwarna cokelat di tengah, dan endapan yang lebih gelap di dasar gelas. Busanya masih berdiri tegak saat sampai di meja — tanda kocokannya benar dan penyajiannya cepat.
Tegukan Pertama: Bukan Minuman, Tapi Adonan
Saya harus jujur di bagian ini.
Rasa yang muncul pertama bukan rasa teh, melainkan manis — manis yang sangat, yang langsung mengambil alih seluruh lidah. Baru setelah itu terasa telurnya, dan kesan yang paling dekat untuk menggambarkannya adalah adonan kue bolu sebelum dipanggang. Persis itu: manis, kental, ada aroma telur yang khas, dengan kesan bersusu yang tebal.
Bagi yang membayangkan minuman ini akan amis, saya justru tidak menemukan amis sebagai masalah utama. Masalahnya ada di manisnya.
Rasa yang muncul pertama bukan rasa teh, melainkan manis — manis yang sangat, yang langsung mengambil alih seluruh lidah.
Jeruk Nipisnya Kalah
Sepotong jeruk nipis di piring saji bukan hiasan. Ia penawar — untuk memotong aroma telur sekaligus menyeimbangkan rasa. Cara meminum yang benar memang memerasnya lebih dulu, seperti yang dilakukan kolega saya di seberang meja.
Saya ikut memerasnya. Tapi hasilnya tidak seperti yang saya harapkan: asam jeruk nipis itu kalah oleh manis yang terlalu dominan. Efeknya ada, tapi tipis.
Saran Praktis
Kalau Anda pendatang seperti saya: minta gula dikurangi sejak awal, atau minta susu kental manisnya dilewat. Sebagian warung terbiasa dengan permintaan seperti ini. Memeras jeruk nipis di akhir tidak akan menyelamatkan gelas yang sudah terlanjur terlalu manis.
Efeknya: Kenyang, Bukan Segar
Kata kolega saya, teh talua menambah tenaga. Itu memang reputasi yang melekat pada minuman ini sejak lama — kuning telur, gula, teh pekat, semuanya memang bahan berenergi, dan secara tradisi minuman ini diminum untuk memulihkan stamina.
Tapi yang saya rasakan sendiri berbeda. Yang paling terasa setelah menghabiskan gelas itu adalah kenyang. Bukan segar, bukan ringan. Ini lebih dekat ke makanan penutup dalam bentuk cair daripada ke minuman pendamping.
Karena itu urutan penyajiannya penting. Diminum bersamaan dengan sate, ia akan berebut tempat dengan makanannya. Setelah makan, ia justru pas — asalkan porsi makan Anda tidak berlebihan.
Waktu Terbaik: Menjelang Magrib
Semua ajakan yang saya terima jatuh di waktu yang sama, menjelang magrib. Hari mulai turun, warung mulai ramai, lilin-lilin kecil dinyalakan di atas meja kayu panjang. Ada sesuatu yang tepat dari kombinasi itu — minuman hangat dan pekat di jam ketika udara mulai berubah.
Dan di jam itu pula orang duduk lama. Teh talua tidak diminum buru-buru. Busanya bertahan, gelasnya tinggi, dan sepertinya memang dirancang untuk menemani percakapan yang tidak sebentar.
Untuk Siapa Minuman Ini
Sangat cocok untuk
- Anda yang sedang di Sumatera Barat dan ingin merasakan sesuatu yang benar-benar lokal.
- Penyuka minuman manis dan kental.
- Anda yang diajak seseorang — karena menolak ajakan teh talua rasanya menyia-nyiakan sebuah tawaran keramahan.
Kurang cocok untuk
- Anda yang sedang membatasi gula.
- Anda yang tidak nyaman dengan telur setengah matang atau mentah.
- Anda yang punya masalah pencernaan dengan kuning telur.
- Anda yang baru saja makan berat.
Perlu Kehati-hatian
Untuk anak-anak, ibu hamil, dan orang dengan daya tahan tubuh menurun, telur yang tidak dimasak matang memang perlu kehati-hatian tersendiri.
Catatan Harga
Saya tidak bisa menyebut angka pasti, karena setiap kali minum, saya ditraktir. Secara umum teh talua di warung-warung Padang berada di kisaran belasan ribu rupiah per gelas, tergantung ukuran dan apakah memakai susu — tetapi angka ini sebaiknya Anda konfirmasi langsung di tempat, bukan dari tulisan ini.
Penilaian
Ini bukan penilaian terhadap kualitas warungnya, yang menyajikannya dengan benar: busa tebal, teh pekat, jeruk nipis lengkap, disajikan cepat. Ini penilaian terhadap kecocokan rasa untuk lidah pendatang. Manisnya berada di level yang membuat saya tidak berencana memesannya sendiri.
Tapi ada hal yang tidak bisa diukur bintang. Saya diajak ke warung yang sama berulang kali oleh orang-orang yang tahu persis apa yang mereka tawarkan. Dalam konteks itu, teh talua bukan soal enak atau tidak enak. Ia adalah cara seseorang berkata: duduklah dulu, jangan buru-buru pulang.
Dan gelas itu selalu saya habiskan.
Ulasan ini ditulis berdasarkan pengalaman langsung di Kota Padang, Sumatera Barat. veriview.store tidak menerima kompensasi dari pihak mana pun atas tulisan ini.
Menginap di dekat sini
Kalau Anda mencoba teh talua sambil bepergian ke Padang, ini penginapan di kota yang sama yang sudah saya inapi sendiri.
- Elinoor Guest House Syariah, PadangDi Kota Padang. Penilaian Veriview: sangat direkomendasikan untuk keluarga.
Baca juga ulasan lain
Dapat kabar ulasan baru
Kami mengirim email hanya kalau ada ulasan penginapan atau kuliner baru, plus catatan perjalanan yang menurut kami layak dibaca. Tidak setiap minggu, dan tidak pernah spam.
Berhenti berlangganan kapan saja lewat tautan di setiap email. Alamat Anda tidak kami jual atau bagikan — lihat Kebijakan Privasi.
